“Aku traktir”
Tiba-tiba muncul sosok cowok keren dibelakang the girls gang yang lagi asyik ngerumpi.
“Yang bener…?” kata seorang cewek dengan rambut lurus sepinggang menoleh kearah cowok yang baru datang itu.
“Iya! Bener…!”
Cowok itu menggeser kursi yang berada disebelah cewek yang berambut lurus sepinggang itu dan kemudian duduk dengan santai. Matanya memandang satu persatu cewek-cewek yang ada disitu.
“Kami semua?” Tanya cewek yang berambut keriting.
“Iyaalah..! All the ladies in here, Ifa, Susi, dan…Elok,” jawabnya enteng sambil tersenyum. Matanya mengedip nakal.
“Din, apa nggak rugi nih…?” kata cewek yang berambut pendek.
“Ya, enggaklah… Sus,” kata Dino. “Untuk kalian ada…”
“Siiip…” kata Susi melirik kearah teman-temannya.
“Kalian pesan apa?” Tanya Dino pada cewek yang duduk disebelah kanannya. Cewek ini cantik. Cowok mana yang tak akan tergoda dengan kecantikannya yang telah terkenal diseluruh SMU 2 Malang.
“Aku bakso saja,” Kata Ifa kalem diiringi dengan senyumannya yang khas. Banyak cowok yang jatuh hati gara-gara senyuman ini. Dan banyak yang ingin jadi pacarnya. Karena dia seorang primadona disekolahnya.
“Aku bakso juga,” ujar Elok, cewek yang berambut keriting murni. Eh… tapi bukan kribo loh…
“Aku juga sama! Bakso…” Sahut Susi tak mau ketinggalan.
“Huu… dasar latah!” celetuk Ifa dan Elok serentak.
Susi nggak menjawab. Cuma cengar-cengir saja memandang temen-temennya.
“Udaah…” Dino menengahi. “Nah… sekarang minumnya apa?”
“Es jeruk,” kata Ifa kalem.
“Es teh,” seru Elok.
“Es jeruk,” seru Susi cepat.
Dino menoleh ke arah penjual dan berteriak memesan pesanan teman-temannya.
“Bakso tiga, es jeruk tiga, es teh satu,” serunya dengan lantang.
“Kamu nggak pesen makanan, Din?,” tanya Ifa heran.
“Masih kenyang”, jawabnya enteng.
Tak lama kemudian pesanan yang dinanti-nanti telah dihidangkan dimeja. Harum bakso menebar di seluruh kantin, membuat orang yang menciumnya akan tergoda. Bakso dikantin ini memang terkenal dikalangan siswa. Dan merupakan makanan favorit siswa-siswi SMU 2 Malang untuk sekedar mengganjal perut yang keroncongan. Kata mereka bakso Pak Gombleh tak ada duanya. Dengan dengan khusuknya mereka makan. Ifa sesekali malirik Dino, matanya tak berkedip penuh irama. Ada makna lain dibalik itu.
***
The girls gang berkumpul dirumah Ifa. Katanya sih mau ngerjakan tugas tapi, apa yang terjadi… eh malah ngrumpi.
“Ooh, Dino…” guman Ifa dengan melamun. “Kamu kok ganteng sih….”
“Kamu naksir Dino?” Tanya susi yang dari tadi memperhatikan tingkah laku anak itu.
“Udah tahu nanyak!” jawabnya ketus merasa lamunannya terganggu.
“Iya, ya…Dino kok ganteng ya…” Susi ikut-ikutan termenung.
“He! Jangan bilang kamu naksir Dino juga!” Ifa tiba-tiba galak. Maklum merasa tersaingi. Dia tidak senang bila gebetannya juga disenangi sama teman-temannya.
“Kalau iya emang kenapa?” Jawab Susi santai.
“Ngaca dulu dong!” Ifa sewot. “Dino itu milikku!”
“Bukan milik kamu doang… tapi milik satu sekolah,” seru susi tak mau kalah. “Yang naksir aja mulai dari kelas satu sampe kelas tiga non… jadi intinya yang naksir satu sekolahan”
“Tapi aku yakin Dino akan jadi milikku,” katanya yakin denagan penuh semangat. Pikirannya mulai melayang-layang kemana-mana. “Aku yakin Dino suka aku. Apalagi aku adalah cewek yang paling cantik disekolah ini. Ya nggak..?
Susi hanya tersenyum-senyum mendengar Ifa mengoceh. Dia manggut-manggut untuk meyakinkan kalau dia masih mendengar omongan Ifa yang terlalu semangat.
Dino adalah cowok yang paling keren di SMU 2 Malang kata para cewek yang tergila-gila pada dia. Dino yang mempunyai tampang oke, tubuh atletis dengan dipadukan kulit putih membuat cewek-cewek tergoda. Apalagi cara dia memandang. Woow…dasyat man. Dino yang memiliki sepasang mata elang yang dipadu dengan alisnya yang tebal, bibir tipis warna merah dan rambut lurus kemerah merahan. Mirip anak indo, semakin membuat cewek-cewek tergila-gila.
Dimana-mana Dino selalu dipuja-puja oleh cewek-cewek. Apalagi dia anak yang tajir. Ramah kepada semua orang, terutama cewek.
“Eh denger-denger Dino anak orang kaya loh” Elok mendekat ke Ifa, ikut nimbrung. “Ingat kan? Dia pernah mentraktir kita makan tempo hari”
“Iyalah pasti!” celetuk Susi.
“Pasti dia anak seorang pengusaha yang sukses,” guman Ifa, dengan tangan menahan dagunya, membayangkan Dino sebagai anak seorang pengusaha sukses dan membayangkan Dino dapat ditaklukkannya dan dirinya dimanja dengan barang-barang yang mewah sesuai dengan keinginannya.. Dia akan mendapatkan semuanya dari Dino.
Ifa merupakan cewek matre. Selalu gonta-ganti pacar. Cowok cakep diembatnya tak peduli sudah punya pacar sekalipun. Tampang Ifa memang oke punya. Cowok manapun bisa digaetnya.
***
Hari minggu anak kelas 2-3 pergi ke museum Brawijaya untuk mengerjakan tugas sejarah. Pak Soleh mengharuskan siswa-siswinya penelitian langsung ke Museum. Katanya ini merupakan penerapan KBK yan katanya membuat anak menjadi kreatif dengan ditunjukkan dengan media.
Pagi itu anak-anak kelas 2-3 kumpul di halaman sekolah untuk bersiap-siap berangkat kemuseum.
” Aku absen dulu sebelum berangkat,” seru Dwi sang ketua kelas dengan lagak penting dia memegang absen yang telah disiapkan dari rumah.
Satu persatu nama dipanggilnya. Masih kurang dua. Kepalanya celingukan mencari-cari dua anak yang belum nampak batang hidungnya. Eh nggak tahu hilang atau memang belum datang.
“Kemana Dino dan Ary?” tanyanya ke anak sebelahnya.
“Tak taulah aku!” anak yang ditanya sewot. “Emang aku asistennya!?”
“Yee… kali aja kamu tahu kemana mereka,” semprot Dwi.
“Kayaknya dari tadi aku belum melihat mereka deh,” kata Ifa serius, tangannya saling meremas-remas pertanda dia mencemaskan kekasihnya. Dino.
Anak-anak menggerutu karena jadwal keberangkatanya harus diundur. Dalam penungguannya yang laaamaa, bagi mereka yang tidak sabar, nampak dari kejauhan sedan BMW warna hitam berhenti di depan pintu gerbang dan muncul dua sosok yang dinanti-nanti dari dalam sedan. Dino dan Ary berjalan beriringan menuju kumpulan teman-temannya.
“Itu mereka!” seru Susi. Suaranya melengking sangking semangatnya.
Dengan langkah tegap Dino masuk gerbang sekolah dengan diiringi senyumnya yang khas membuat cewek-cewek terpana. Disebelahnya, Ary berjalan dengan langkah santai tapi pasti.
“Funky bo…” seru Ifa dengan mata berseri-seri melihat Dino pujaan hatinya. Dino yang gayanya gaul abis dengan celana jins dipadu kaos T-shirt yang matching. Rantai bergelantung di pinggangnya menambah kesan kelihatan semakin funky. Dengan rambut dimodel acak-acakan. Tren saat ini. Sepatu kets menjadi pelengkap. Tampang anak seorang pengusaha besar makin tampak pada diri Dino, apalagi sedan mewah yang dinaikinya. Membuat para cewek-cewek semakin kebat-kebit
“Eh tu lihat Ary,” kata Elok sambil tertawa cekikikan.
Ary yang berjalan dibelakang Dino memang tak kalah gayanya. Model keseluruhannya tak jauh beda dengan Dino cuma yang membedakan corak warnanya saja. Tak ketinggalan kacamata minus Harry Potter penambah aksesoris wajibnya.
“Iih kuper baanget…!”
Semua mata memandangnya. Terdengar cekikikan ramai. Ary yang kulitnya hitam menurut mereka terasa tak sedap mata memandang dengan gaya seperti itu begitu penilaiannya. Apalagi mukanya yang berjerawatan.
“Iya!” Timpal Susi. “Walau pakai baju sekeren apa pun tak akan menghilangkan tampang jeleknya.”
Ary memang berbeda dengan Dino yang memiliki perawakan gagah dengan kulit putih sedangkan Ary, hanya memiliki tinggi yang sama tapi tubuh kurang atletis dan imut, alias item mutlak.
“Iya!” sahut Ifa. “Tuh lihat model rambutnya nggak matching”
Ifa mendekati Dino. Dan mulai bermanja-manja.
“Diinoo… kamu kok makin funky aja sih”, rayu Ifa dengan suaranya yang dibuat-buat. dipegangnya tangan Dino. “Nanti jangan jauh-jauh ya..?”
“Enggaklah. Aku kan selalu disampingmu”, balas Dino dengan tersenyum.
“Huu….” sorak teman-temannya.
“Kalau pacaran jangan disini!” bentak Dwi sewot.
Ary hanya tersenyum-senyum melihat kawannya yang bergandengan mesra dengan Ifa. Tahu rasa nanti, kalau tahu siapa dia batinnya.
Singkat kata mereka telah sampai di museum Brawijaya.
Tak terasa waktu berjalan begitu cepat.
“Hooiii… sudah selesai apa belum?” seru Dwi. “Sudah jam satu,” lanjutnya. “Kalau sudah selesai kita pulang”
Dengan dikomando ketua kelasnya rombongan anak kelas 2-3 pulang kerumah masing-masing dengan membawa rasa penat dikaki.
***
“Ary kamu sudah selesai PR matematika?” tanya Ifa.
“Sudah,” jawab Ary singkat.
“Pinjem ddooog…”
Ary mengeluarkan buku PRnya, Ifa mengambilnya dengan cepat.
“Eh aku juga ya…?” kata Susi dan Elok tiba-tiba dan cewek-cewek yang lain ikut mengkrubutinya.
Buku Ary telah pindah dari satu tangan ke tangan yang lain. Ini kelebihan Ary. Memiliki otak yang tokcer. Kepintarannya belum ada yang menandingi. Memang otaknya paling encer di kelas 2-3 malah diseluruh kelas dua. Tak salah bila anugerah siswa teladan diberikan padanya. Itulah kelebihan Ary yang membuat ia tidak terlalu dikucilkan. Memang Ary tidak begitu cakep. Itulah alasan cewek tidak ada hasrat untuk jadi pacarnya. Plus kulit hitamnya dan plus kacamatanya yang kayak Harry Potter. Ary memang tampak tidak terlalu tertarik dengan yang namanya cewek. Menurutnya, mereka akan mengganggu belajarnya.
Tet…tet…tet….
Bel tanda masuk telah berbunyi. Suara langkah kaki bergaung lemah. Tanda mereka enggan masuk kelas. Begitu pun anak kelas 2-3 mereka enggan masuk karena jam pertama adalah matematika. Mereka tak tahan dengan tampang Pak Endro karena menurut mereka seraaam… sebenarnya yang seram pelajarannya atau pengajarnya?
“Selamat pagi anak-anak…” kata Pak Endro dengan suara yang tegas.
“Pagi paakk….” jawab anak kelas 2-3 dengan serentak.
“Tugas kemarin dikumpulkan,” kata Pak Endro tanpa merubah air mukanya. “Dan sekarang kalian kerjakan soal itu dipapan tulis biar Bapak tahu apakah pekerjaan itu hasil kerja sendiri atau…. copy paste. Bapak akan panggil satu persatu”
Inilah yang paling dibenci anak-anak kecuali mereka yang rajin mengerjakan tugas plus rajin belajar. Salah satunya Ary.
“Dino,” kata pak endro tiba-tiba. “Kamu kerjakan nomor satu”
Deg!. Dino seakan-akan tidak dapat bernapas sesaat. Untung ada Ary yang duduk disebelahnya memberi kursus kilat.
“Elok,” lanjut Pak Endro. “Kamu juga nomor satu. Nanti kita lihat siapa yang paling benar”
Dengan langkah mantap Dino maju kedepan. Dengan santainya dia menulis jawabannya dan selesai dengan cepat. Sebaliknya Elok dengan langkah ogah-ogahan maju kedepan dan berhenti. Diliriknya kerjaan Dino yang sudah selesai.
“Elok kerjakan sendiri!” kata Pak Endro. “Jangan toleh kanan-kiri!”
“I-i..ya Pak,” jawab Elok dengan terbata-bata sangking kagetnya.
Dengan perjuangan kerasnya plus ilmu ngawurnya selesai juga.
“Bagus,” puji Pak Endro, melihat hasi pekerjaan Dino. “Tidak ada yang salah”
“Kereen…!,” guman Ifa memandang Dino dengan mata bersinar-sinar. Kagum. Cewek-cewek semakin kagum pada sosok Dino. Dino hanya senyum-senyum melihat teman-teman memujinya.
Tet….tet…
Akhirnya pelajaran matematika telah selesai. Lega perasaan mereka. Yang seakan-akan terpenjara bertahun-tahun.
Jam demi jam telah dilalui. Bel yang ditunggu-tunggu pun datang juga. Bel istirahat.
Siswa-siswi SMU 2 Malang keluar kelas. Merek beramai-ramai menuju kantin yang ada di belakang sekolah untuk menabung makanan diperut.
“Dino!” Panggil Ifa.
Dengan berlari-lari dia menghampiri Dino yang berdiri disebelah tangga celingak-celinguk mencari sesuatu. “Kamu hebat!” katanya setelah dekat. “Aku makin kagum sama kamu. Tadi kamu bisa menjawab soal-soal itu. Eh tahu nggak kamu funky deh”
“Ah yang bener… Oh ya! Ada undangan buat kamu,” kata Dino sambil mengedipkan sebelah mata.
“Apaan tuh,” kata Ifa penasaran. Sambil membayangkan yang enggak-enggak.
“Hari minggu besok aku buat acara. Ultah gitu…” kata Dino. “Aku minta tolong kamu untuk nyebarkan undangan. Mau kan…
“Tentu,” kata Ifa cepat.
***
Perumahan Blimbing.
Jam 10.00 WIB.
“Ini ya, rumahnya Dino? Woow besar banget,” Kata Elok terkagum-kagum.
“Nggak tahu. Aku kan belum pernah kerumahnya”, kata Dwi. Kepalanya memandang kanan kiri siapa tahu bukan rumah ini.
“Menurut alamat yang tertera diundangan ini, iya…ini alamat yang benar”, kata Susi dengan meunjukkan undangan yang dibawanya.
“Oh….Dino,” bisik Ifa yang ikut kagum melihat rumah megah di depan matanya. Dan membayangkan bagaimana rasanya dia menjadi pemilik rumah itu.
Dwi siap-siap mencet bel rumah besar megah itu. Gerbang terbuka.
“Benar ini rumahnya Dino?” tanya Dwi ketika satpam rumah muncul.
“Ya!” jawab satpam dengan singkat. “Mari masuk sudah ditunggu”
Mereka berebutan untuk saling mendahului. Pintu dibuka. Muncul sosok Dino. Dia tambah funky saja dengan balutan pakaian pestanya. Senyum merekah dibibir tipis merahnya.
“Mari masuk,”
Dino mempersilahkan teman-temannya masuk.
“Dino selamat ulang tahun ya…” serbu Ifa yang buru-buru mendekati Dino. Takut keduluan yang lainnya. Dino tersenyum, menganggukkan kepala tanpa berkata apa-apa.
Mereka masuk mengikuti Dino menuju bagian lain rumah ini. Tepatnya kolam renang. Karena pestanya diadakan dikolam renang.
Ifa merasa aneh ketika melintasi ruangan dalam rumah itu. Dia melihat foto-foto yang terletak dimeja sekilas, tapi bukan Dino yang ada difoto itu tapi…Ary.
“Dino, kok aku tidak melihat fotomu dirumah ini?” tanya Ifa.
Dino tidak menjawab malah tersenyum. Akhirnya mereka sampai dikolam renang. Disana telah menunggu Ary. Hari ini Ary kelihatan tampan dengan jas hitamnya. Tampak manis.
Bukannya makin hitam…
Kemudian muncul sosok sepasang suami istri yang diyakini teman-teman Dino sebagai empu rumah.
“Itu ortu kamu?” tanya Ifa.
Lagi-lagi Dino tesenyum. Senyuman penuh arti.
“Terima kasih atas kehadirannya pada ulang tahun Dino,” kata Bapak Angkoso pemilik rumah megah itu.
“Ini sudah kumpul semua?” tanya Ibu Wardahlia istri Pak Angkoso. “Kalau sudah kita bisa mulai acaranya”
Roti ulang tahun yang besar dihadirkan ditengah-tenah mereka. Kemudian paduan suara selamat ulang tahun bergema diseluruh kolam itu. Lilin ditiup kemudian kue tersebut dipotongnya jadi beberapa bagian.
Ifa sudah dag dig dug duar… saat-saat pemotongan. Karena detik-detik ini, dimana potongan tersebut akan diberikan kepada orang yang disayanginya. Dan Ifa yakin salah satu potongan kue tersebut akan diberikan Dino kepadanya.
Potongan kue tersebut diletakkan diatas piring kecil yang telah disiapkan. Dino mengambil kue tersebut kamudian diberikan kepada Bapak Ibu Angkoso. Potongan yang terakhir dipegang oleh Dino. Matanya memandang Ifa. Ifa sudah merasa yakin potongan kue tersebut bakalan diberikan padanya. Dino melangkah berjalan melewati Ifa, diberikannya kue tersebut pada pembantu yang membawakan roti tersebut yang berdiri tepat dibelakang Ifa.
Ifa melongo.
“Terima kasih teman-teman yang sudi hadir pada acara ulang tahunku,” Dino memberikan sambutannya. “Dan terima kasihku aku ucapkan pada orang yang telah sudi mengadakan acara ini. Bapak Angkoso dan Ibu Wardahlia, yang begitu baik menerima saya ditengah-tengah keluarganya yang damai.
Semuanya terdiam. Bingung dengan perkataan Dino. Apalagi Ifa.
“Saya yang merupakan anak Bapak Arman dan Ibu Kustiyah, yang merupakan pembatu dirumah ini sudah dianggap seperti anak mereka. Dan aku sangat berterima kasih pada Aryanggoro karena dia selalu membantuku dalam banyak hal. Dan dia tidak pernah tersinggung apalagi marah ketika selalu dibuat perbandingan oleh teman-teman karena fisik kami. Dia selalu dikucilkan karena hal ini. Tidak adil memang. Dia begitu lapang dada tidak pernah dendam dan tidak pernah mengungkit-ungkit didepan teman-teman kalau kenyataannya aku adalah anak seorang pembantu. Begitu mulia hatinya.
“Jadi…”
Terdengar bisik-bisik.
Bruuk… suara tubuh jatuh kelantai.
Ifa pingsan.
Malang, 26 Mei 2006
My Room
By: yeka pia